Setangkai mawar dari surga

gambar : plus.google.com

Pekat malam dalam perenungan
Memintal rindu diantara jemari
Setangkai mawar dari surga
Ku alamat kan di samping jendela

Jejak-jejak itu masih melekat
dalam setiap tarikan nafas
Menikmati indahnya alunan suara
Dan gemericik ombak penandanya

Tajamnya duri akan menjadi penjagamu
Suci engkau dalam balutan penutupnya
Dan harummu akan tercium ke surga
Lewat doa yang engkau panjatkan

Teruslah bermunajat
Teruslah bersenandung
Kelak kita dipertemukan
Dan cerita akan abadi

Mamuju 16 Februari 2018

Iklan

Kertas kosong

Sungguh deras hujan hari ini, suaranya yang bising memainkan nada-nada yang tidak beraturan. Air yang menggenang bukti kesedihan dunia atas tingkahnya. Angin berhembus mendesir tepian kulit yang mulai mengering. Sesekali rasa-rasanya ringkih jiwa ini. Secarik kertas menuangkan asa dalam alam imaji. Menikmati kebebasan yang telah direnggut sendiri. 

Memulai kehidupan yang insyaallah lebih baik dan tentunya harus berani keluar dari zona nyaman. Sekelumit kisah tentang masa lalu yang suram, jauh dari kebaikan sementara dekat dengan kegagalan. Hari yang di lalui begitu datar. Menyelesaikan Kuliah untuk membahagiakan orang tua, namun apa daya selesai kuliah justru tak berguna, buktinya sampai sekarang belum menemukan pekerjaan.

Pernah juga mengenal gadis dengan sorot mata yang sendu, tutur kata yang sopan, namun sekali lagi dia juga pergi meninggalkan, mungkin benar karena tidak berjodoh, atau hanya alasan sebab belum ada pekerjaan jelas. Kelak akan ku buktikan bahwa saya bisa mengubah semua anggapan itu.

Hujan perlahan mereda, kertas pun telah penuh dengan coretan. Malam telah hening di kepung sunyi. Maka kemudian teruslah  mensugesti diri untuk berusaha memperbaiki diri. Bukan kah dalam Teori mekanika kuantum mengatakan “jika kita memiliki keinginan yang kuat maka alam akan membantu mewujudkannya”?

Mamuju 11 Januari 2018

Berganti

Kerlap kelip petasan dan kembang api 

Memecah malam dalam kerumunan sorak Sorai

Dan hegemoni setiap pergantian tahun

Pengunjung penginapan dan hotel bersahutan
Namun berbeda dengan malam ini

Semua terpenjara dalam sunyi

Dan api sisa malam tadi

Menjadi saksi penghapus bukti
Cerita yang perlahan menghilang

Atau sengaja telah kita buang

Dan sisa-sisa baumu berkurang

Dalam tatapan langit yang mendung
Sisa api yang mulai mereda

Menjadi catatan membuat jeda

Mari mulai introspeksi diri

Melepaskan belenggu-belenggu duri
(1 Januari 2018)

Sekotak cinta

Menyusuri sajak penuh kepalsuan

Rintihan hati tak pernah berarti

Saat renjana mulai menggema

Menelusup cinta menuntut kepastian
Telah ku siapkan tumpukan buku kenangan

Telah ku goreskan sebuah pena hitam

Namun jelaga yang kau titipkan

Menjadi buih dari sembilu

Cahaya yang kau titipkan padam seketika

Tinggallah aku dan sebuah lentera

Dan cerita tentang kesatria sebelum cahaya

Dengan sekotak cinta yang dibawanya
Kau mungkin lupa atau memang ingin melupakan

Siapa yang menampungmu saat kau menderita hipotimia

Kau mungkin tak sadar atau hanya ingin menyadarkan

Rasa-rasanya aku hanya tempat persinggahan
Tapi bagiku sekarang itu sudah cukup

Mampu menarikmu dari jurang kesedihan

Memberikan penawar dan mengobati lukamu

Walaupun aku juga tak pernah sekuat itu
Tak surut apa yang ku perjuangkan

Tak pernah padam api yang kunyalakan

Kisah sekotak cinta akan hidup sepanjang zaman

Walau terus dalam pengharapan

“Syair puisi ini ku tulis dari saripati kisah kehidupan seorang sahabat yang pernah menjalin hubungan empat tahun lamanya, namun akhirnya kandas dan kemudian di tinggal menikah. Akhirnya tulisan ini pun di buat atas keinginannya”

Mamuju-sulawesi barat

Salju Mencair

Salju mencair di tepi pelupuk matamu

Sedang air hujan membeku buat ringkih hatiku

Tentang kisah yang kau ukir menjadi kasih pelipurmu

Dan kita yang menjadi kata sarat makna denganku

Masih ingatkah dirimu saat kau datang berlumuran luka?

Ku obati dengan suka yang sebenarnya adalah duka

Masih ingatkah dirimu saat kau datang berderai sedih?

Ku beri penawar dengan tawa yang sebenarnya juga samar

Waktu berlalu pancaran sinarmu kembali

Kau menjadi sosok yang tak lagi pendiam

Matamu tak lagi buta, telingamu tak tuli

Namun, hatimu sepertinya mulai membatu dan karam

 

Kau memilih untuk mencari sendiri kebahagiaanmu

Kebahagiaan yang tak kau temukan pada diriku

Dan sekali lagi salju pun mencair, namun tidak di matamu

Melainkan tepat di pelupuk mataku

Untukmu rembulan

“Untukmu rembulan yang sedang malu dan semua kenangan yang telah berlalu. Untukmu rembulan yang mungkin sembunyi dan bagian diriku yang dilanda sunyi”


Di sudut sepi mengeja nama mengais setiap rindu yang menjelma. Namun jelaga yang kau titipkan sekali itu menjadi pil pahit menyesakkan dada. Ku telan saja air liur ku hari itu mendengar penjelasan darimu. ” Selamat jalan semoga damai hidup keduamu”, Jawabku kala itu.

Hari demi hari telah terlewati ku sulam kembali harapan-harapan yang berserakan. Mimpi yang tadinya di gantung di lauhul Mahfudz, terseret arus kembali menuju hilir. Ku terima semua ini sebagai sebuah pelajaran berarti. Segala keterbatasan hari ini akan ku buktikan suatu hari ini.

“Cahaya rembulan menembus kesunyian malam ini. Sepi ku sendiri sementara elegi mengambil sisi kiri tubuh yang kosong. Renjana semakin menusuk menembus mimpi. Semoga cahaya mampu menerangi jalan sisi kanan tubuhku, bangunlah, dan teruslah hidup”

Semua yang kita cari adalah refleksi diri kita sendiri. Pada bagian yang telah hilang pun dengan mereka yang akan datang. Selalu ada pilihan untuk setiap kejadian. Terserah, apakah kita pasrah dan menyerah atau bangkit sekali lagi terbang menuju langit.