Tak Ada

Tak ada sesuatu yang bisa kita pertahankan mati-matian”

Kalimat ini diucapkan oleh gusdur kala ia lengser dan ingin dikeluarkan dari istana negara. Pada saat itu ratusan warga NU siap untuk membela gusdur. Jika pada saat itu dia mengiyakan maka akan terjadi pertumpahan darah di negeri kita. 

Beliau berkata “Tak ada sesuatu yang bisa kita pertahankan mati-matian”

Hari ini saya sadar bahwa perkataan itu memang benar dan relevan dengan kenyataan hari ini. Apa yang kita miliki hari ini hanya sebuah titipan, maka sudah pasti bisa pergi. Harta, tahta, wanita dan semua ketenaran dunia akan pergi. Semua yang kita sayangi pun akan pergi, entah kemudian pergi terpisah ke alam lain atau karena di rebut orang lain jika di masih di dunia.
Pun demikian dengan potongan lirik lagu Noah band dalam lagunya tak ada yang abadi.

“Seperti alunan detak jantungku

Tak bertahan melawan waktu

Dan semua keindahan yang memudar

Atau cinta yang telah hilang
Tak ada yang abadi

Tak ada yang abadi

Tak ada yang abadi

Tak ada yang abadi…
Ho….Biarkan aku bernafas sejenak

Sebelum hilang….”

Mari menjaga dan menyayangi sepenuh hati apa yang kita miliki hari ini. Tak ada yang paling berharga selain apa yang kita miliki. Mari kita berikhtiar bukankah yang kita miliki hari ini belum tentu kita miliki di hari esok, selanjutnya terserah tuhan.

Persimpangan

Sebagian kita terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, namun sebagian lagi dari keluarga yang berada. Untuk mereka yang serba berkecukupan mungkin bukan persoalan yang begitu berat ketika si anak ingin bersekolah. Membeli peralatan sekolah atau lain sebagainya. Jika tak mau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi Misalnya S2 mereka dapat dengan mudah membuat usaha kecil-kecilan. Atau paling tidak dengan bantuan orang tua mereka dengan mudah masuk kerja ke tempat yang diinginkan.

Bagaimana dengan mereka yang dari keluarga biasa-biasa?. Paling mudah selesaikan kuliah S1 cepat dan kembali ke kampung halaman. Mengapa? Karena biaya untuk melanjutkan sekolah S2 itu berat, apalagi kalau kemudian kita bersaudara sementara sekolah dan kuliah juga. Menyandang predikat S1 pulang kampung bukan menjadi hal istimewa, apalagi kalau kemudian di kampung juga kerja belum jelas, yah paling mudah menjadi tenaga honorer. Hitung-hitung menunggu pendaftaran pegawai negeri yang tidak jelas kapan adanya. Ia kalau lulus, nah kalau tidak. Masih bisa lanjutkan jadi tenaga honorer saja.

Setiap waktu yang berlalu akan membuat kita semakin berumur. Tak terasa sudah lewat seperempat abad lamanya dan lagi-lagi belum dapat jawaban pertanyaan pekerjaan yang jelas. Di samping  itu ada yang menunggu lagi selain pertanyaan pekerjaan apa yang kita lakoni sekarang. Yah benar di umur yang telah lewat seperempat abad lamanya. Kita akan ditanya oleh keluarga kapan nikahnya. Pertanyaan ini seperti bom waktu yang siap untuk meledak. Bukan kah menikah itu bukan persoalan cepat melainkan persoalan ketepatan dan kesiapan.

Seharusnya kita harus tetap bersyukur kepada pencipta. Sebab masih di beri kesehatan yang luar biasa. Persoalan rezeki, jodoh dan ajal bukankah telah tercatat di lauhul mahfuzh. Kita hanya terus ikhtiar sambil terus memanjatkan do’a keharibaannya.

Mari silaturahmi

Dunia yang kita tempati mungkin terlalu kecil jika dibandingkan dengan alam pikiran kita yang tak terbatas. Berjalan menyusuri dunia ini akan membuat kita belajar dari setiap apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita rasakan.

Terlahir kedunia ini adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan pencipta kepada kita sebagai hambanya. Banyaknya peristiwa dan kejadian yang kita alami adalah salah satu cara Tuhan berbicara kepada kita sebagai makhluk ciptaannya.

Terkadang kita tidak pernah merasa bersyukur atas apa yang kita peroleh, bahkan kita selalu merasa ingin lebih, dan lebih lagi. Memang begitulah sifat dasar manusia yang tidak pernah puas. Sarkasme, ego yang berlebihan tanpa pernah sedikitpun memikirkan orang lain.

Bukankah kita ini adalah makhluk sosial. Tapi itulah faktanya, olehnya itu saya berani mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sulit dimengerti. Mungkin dengan belajar merasa kita dapat betul-betul menjadi manusia seutuhnya.

Bunga Rampai Kehidupan

Hidup adalah perjuangan, belajar hidup sudah harus menikmati suka dan dukanya. Pahit manis akan menjadi keseharian yang akan kita temukan. Apalagi untuk seorang pemimpi. Menjadi seorang pemimpi itu wajar-wajar saja tapi hidup dalam mimpi-mimpi itu yang harus di hindari.

Kita terlahir sebagai seorang pemenang, faktanya adalah pada saat berjuta sel sperma yang akan menembus sel ovum hanya yang kuat yang memiliki keberanian yang mampu menembusnya. Kemudian kita terlahir kedunia ini setelah melewati alam rahim sembilan bulan lamanya.

Kita terlahir dengan rezeki yang tiada ternilai harganya, begitu juga dengan jodoh dan kematian. Semua sudah digariskan, tinggal bagaimana kemudian kita mampu untuk menggapainya. Lewat ikhtiar dan do’a tentunya.

Hidup ini begitu seimbang, ada yang baik, ada pula yang buruk. Ada si miskin dengan pakaian Kumal, adapula si kaya dengan setelan jas berdasi. Akhirnya, pertanyaan kemudian yang harus kita jawab dimana peran kita hari ini?

Terserah Tuhan

Setiap manusia lahir dengan karakter yang berbeda. Hal ini secara lahiriah menjadi sebuah keajaiban tersendiri yang membuat kehidupan semakin majemuk namun begitu berwarna.

Proses pendidikan dalam keluarga yang telah kita jalani menjadi sebuah pondasi awal kerangka berfikir dalam menerjemahkan sebuah peristiwa dan kejadian. Hal ini merupakan langkah awal dalam memperoleh pengetahuan itu.

Daya dukung yang baik dalam proses pendidikan formal maupun informal menjadi landasan untuk dapat memproses informasi yang di terima untuk kemudian mentransformasikan menjadi sebuah argumen yang dapat diterima semua orang.

Persoalan hari ini yang paling besar Adalah menganggap bahwa opini kita merupakan satu-satunya kebenaran yang akhirnya menafikan opini orang lain. Padahal semua tergantung dari cara pandang kita saja. Bukankah hanya dia satu-satunya kebenaran.

Kita manusia terlahir dengan pribadi berbeda-beda, dari keluarga yang berbeda-beda pula. Suku yang berbeda dan agama yang berbeda-beda pula. Apalagi dari proses pendidikan yang begitu jauh berbeda. Cukupkan perbaiki diri menujunya.

Terserah tuhan mau nilai seperti apa!

Introspeksi menuju pencipta

Pagi menjelang siang matahari menuju singgasana nya. Dalam rona berbagai warna seperti senyum meraut garis wajah. Mencuri setiap pandangan di tepian jalan. Harum bunga kasturi semerbak mengudara memecah bersama angin.

Sementara di bilik sebelah seorang anak dalam gendongan ibunya menangis tersedu-sedu, entah karena belum makan atau karena mencari bapaknya yang sedang mengais rezeki memeras keringat berharap keridhoan pencipta dalam setiap langkah.

Di tempat lain mereka sedang bertengkar mempersoalkan siapa yang paling benar. Saling menuduh bahkan mempertahankan ego semata, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Satu-satunya kata almarhumah nenek yang selalu terngiang adalah “pasituru’ naung paummu anna’ kedo-kedomu”.

Menjadi baik bukanlah perkara mudah, keimanan seorang manusia sudah pasti akan pasang surut. Tantangan dunia dan pandangan yang mengelabui menjadi sebuah persoalan selanjutnya. 

Banyak aktivis yang sukses namun gagal dengan keluarganya. Banyak pejabat tenar namun tak mampu membantu tetangganya. Kehidupan ini bukan milik kita seorang, bukankah setelah perintah hubungan kepada pencipta, kita diperintahkan untuk memperbaiki hubungan sesama.

Menggores waktu

Senja telah tiba sore ini. Desiran angin sepoi-sepoi menerpa sisi kiri tubuh ini. Suara masjid pertanda panggilan telah datang. Semua pekerjaan di hentikan, bahkan hewan sekelas ayam pun pulang saat waktu ini telah tiba. 

Begitu pentingnya waktu itu sampai dalam salah satu surah dalam Al Qur’an menjelaskan tentang waktu demi masa ( Al ashr ). Bahwa Sesungguhnya manusia akan berada dalam perkara merugi terutama mereka yang tidak menghargai waktu (masa), menyia-nyiakan waktu, selalu menunda-nunda dalam perkara.

Setiap detik yang berganti sudah seharusnya kita manfaatkan sebaik-baiknya. Kita gunakan dengan orang-orang yang kita sayangi. Sebab waktu taak akan pernah berulang persis hari ini dan detik ini.