Yaa Ramadhan

Yaa ramadhan, sungguh sebuah kepastian tinggal dan meninggalkan, namun mengapa di setiap detik terakhir bersama mu selalu ada rasa haru yang menderu

Yaa ramadhan, sungguh sebuah keniscayaan akan perpisahan, tapi mengapa perasaan melankolis semakin mengiris dan terasa jelas

Yaa ramadhan, sungguh sebuah kebenaran perasaan renjana semakin kuat untukmu, semoga engkau tak pernah bosan berjumpa denganku lagi.

Yaa ramadhan, di sini aku telah bersetia menunggumu, seraya memperbaiki diri lebih baik. Harapanku, semoga kelak engkau masih mengenaliku.

Mamuju 14 Juni 2018

Iklan

Sembunyi

Aku bersembunyi di balik cahaya yang menjadikanmu terang

Berusaha menerangi sisi kiri tubuhmu yang kosong

Sementara engkau terus menikmati indahnya alunan suara

Bersua pandang tanpa sungkan merangkai aksara

Aku juga sembunyi di balik cerita buku-bukuan

Berusaha menjadi sosok yang kau banggakan

Di tengah terpaan seribu badai prasangka

Tersenyum walau sebenarnya menikmati duka

Biarlah aku dikurung dalam belenggu ketidakpastian

Borgol yang mengikat kedua kaki dan tangan

Biarlah pula hanya di temani malam memintal harapan

Walaupun terkadang memang membingungkan

Namun selama ikrar masih terpatri

Selama kaki terus menapaki

Tak akan surut bias cerita

Tak akan hilang baris kata

Aku masih saja sembunyi

Bersetia pada sunyi

Cahaya dan buku sebagai saksi

Semua demi keabadian surgawi

Mamuju, 28 April 2018

Setangkai mawar merah IV

https://virusbiru.com/bunga-mawar/

Langkah kaki kembali berjalan

Menyusuri kolong-kolong langit

Mencari jejak-jejak tuhan

Tersembunyi dibalik maha rahasia

Terdampar pada sebuah taman

Taman yang di penuhi bunga yang elok

Taman yang dihiasi warna-warni kehidupan

Taman orang yang sedang jatuh cinta dan memendam rindu

Aku tertarik pada sebuah bunga

Bunga yang cantik namun penuh duri

Duri yang melindungi sang bunga

Menjaga kemurnian dan kesuciannya

Bunga mawar merah namanya

Bunga yang di penuhi rindu

Bunga dengan kasih sayang

Engkaulah bunga akhir abad

Mamuju, 26 April 2018

Sandal jepit

Terbangun dari negeri khayalan

Menuju dunia yang dipenuhi realitas

Membuka pijakan sepasang mata

Menikmati dunia yang tak terbatas

Telah ku coba merenung separuh waktu

Hidup yang ku lewati dengan sembilu

Telah juga ku rasakan begitu tertekan

Kualitas hidup yang mulai menurun

Aku masih di sini

Di sudut kamar ini

Menceritakan semuanya

Melalui jari jemari untuknya

Bahwa telah ku perjuangkan semua

Yang jadi milik kita tidak akan tertukar

Bahwa telah ku pasrahkan semua

Sebab engkaulah yang maha Mujib

Yang tersisa hanyalah sandal jepit ini

Yang menemaniku saat berjalan

Melewati pilu kesendirian

Diantara harapan dan ketidakpastian

Telah ku tulis syair kerinduan

Kelak kalau engkau rindu jua

Carilah aku di bawah sandal jepitmu

Aku selalu ada bersama sisa kerinduan ini

Mamuju, 24 April 2018

Engkau

Engkau adalah deretan aksara

Yang diam tak mau bicara

Telah ku coba berbagai cara

Namun yang tersisa duka lara

Engkau adalah barisan nada

Yang tak kau beri waktu jeda

Telah ku coba disampingmu berada

Namun, memang kita berbeda

Sedangkan aku,

Kepingan keikhlasan

yang hancur berserakan

Tak engkau ikhlaskan

Mamuju 17 April 2018

Sudahlah

Kadang keramaian menjadi musuh paling besar
Apa karena kita selalu berteman dengan sepi?
Ah, sudahlah

bukan kah ramai dan sepi adalah tentang pertarungan keadaan?
Siapa yang lebih kuat dari mereka?
Tapi, apakah mereka saling menistakan?
Ah, sudahlah

sekali lagi

Mamuju, 16 April 2018

Antara hujan dan air mata

https://pixabay.com/id/tetes-hujan-tetesan-hujan-air-2404441/

Ada yang berdiam dalam rinai hujan
Menahan dingin di balik tebal selimutnya
Mengukir setiap lembaran kenangan
Menggigil, terlihat dari raut wajahnya

Ada yang gelisah karena hujan
Takut, kalau-kalau hujan murka lagi
Perahu akan datang menjadi dewa penolong
Membasmi setiap jengkal sudut gang

Ada yang tiba-tiba kehilangan rumah
Di tengah yang lain kelebihan rumah
Mereka sudah tak tahu kemana akan pulang sementara yang lain tinggal pilih pulang kemana

Ada yang terisak tangis kehilangan anaknya
Di tengah yang lain menghilangkan nyawa anaknya
Mereka hanya kenal cinta
Tapi tak tahu bagaimana mencinta

Hujan,
Kenangan,
Derita,
Air mata,

Mamuju 25 Maret 2018